KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat, hidayah,dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada baginda alam Nabi
Muhammad Saw, beserta keluargnya, sabatnya, tabiin, hingga kepada kita selaku
umatnya hingga akhir zaman.
Makalah yang bertemakan FILSAFAT ILMU SEBAGAI AKTIVITAS PENELITIAN DAN METODE
ILMIAH ini,
tidak lain hanyalah untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Filsafat Ilmu. Saya
sadar bahwa dalam penyelesaian makalah ini jauh dari kesempurnaan, baik dalam
penulisan maupun penyampaian materinya, karena kami masih dalam tahap
pembelajaran. Meskipun demikian kami berharap makalah ini bermanfat bagi
semuanya, khususnya bagi saya. Oleh karena
itu dengan lapangdada saya akan menerima
kritik dan saran yang sifatnya edukatif guna perbaikkan dimasa yang akan
datang.
Dalam pengantar ini kami mengucapkan banyak terimakasih kepada
dosen mata kuliah Filsafat Ilmu, kepada teman-teman dan juga kepada semua pihak
terutama kepada sumber-sumber yang telah membantu terselesaikannya makalah ini,
semoga amal amaliah kita semua diberi balasan oleh Allah SWT. Amiin ya rabbal
‘alamin.
Bandung, 01 November
2012
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Filsafat
dan ilmu adalah dua kata yang saling
terkait, baik secara subtansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak
lepas dari peran filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan
filsafat.
Oleh karena itu, maka saya sebagai seorang mahasiswa
merasa sangat penting untuk mengkaji pembahasan filsafat ilmu, dengan
mengangkat tema “ILMU SEBAGAI AKTIVITAS PENELITIAN DAN METODE ILMIAH”. Karena
di dalamnya terdapat pembahasan yang menjelaskan tentang manusia dan masalah
dalam kehidupannya, serta berbagai macam penelitian terhadap manusia itu
sendiri.
B.
Rumusan Masalah
Dari permasalahan
yang telah dipaparkan diatas, penulis memandang perlu adanya pembatasan yang
dirumuskan dalam pertanyaan – pertanyaan sebagai berikut :
1.
Apa yang dimaksud manusia dan masalah dalam kehidupannya ?
2.
Apa yang dimaksud aktivitas penelitian ?
3.
Apa yang dimaksud penelitian kualitatif fenomenologis ?
4.
Apa yang dimaksud metode ilmiah dalam penelitian ?
C.
Tujuan
1.
Untuk memahami penjelasan manusia dan masalah dalam kehidupannya.
2.
Untuk memahami penjelasan aktivitas penelitian.
3.
Untuk memahami penjelasan penelitian kualitatif fenomenologis.
4.
Untuk memahami penjelasan metode ilmiah dalam penelitian.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Manusia dan Masalah Kehidupannya
Manusia dilahirkan tidak sedikit pun mempunyai
masalah. Keadaannya masih sangat suci bagaikan kertas putih yang belum
bertuliskan tinta sedikit pun, serta bagaikan kain putih yang belum terkena
noda sedikit pun. Akan tetapi, bagi orang tuanya yang menghadapi rasa sakit
ketika melahirkannya, masalahnya sudah menumpuk. Bagi orang miskin masalahnya
adalah tidak mempunyai biaya persalinan, rasa sakit yang luar biasa, anaknya
lahir tidak normal dan sebagainya, sedangkan bagi orang kaya, masalahnya bukan
pada biaya persalinan, tetapi bisa jadi rasa khawatir yang berlebihan, takut
menghadapi rasa sakit, mungkin juga ada kekhawatiran bahwa kecantikannya akan
berubah total, sehingga ia memilih cara melahirkan yang lain, misalnya dengan
cara operasi. ⁽³⁾
Masalah adalah kawan sejati bagi kehidupan manusia.
Biasanya masalah itu datang disebabkan oleh berbagai hal, misalnya karena
manusia diperbudak oleh hawa nafsunya yang serakah. Tidak pernah merasa cukup
dengan apa yang diperoleh, senantiasa mengukur kesuksesan dengan ukuran harta
benda. Apabila menghadapi hidup dengan mengikuti hawa nafsunya, manusia akan
mendapatkan banyak masalah, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk orang
lain. Masalah juga datang karena kebodohan. Kebodohan timbul karena manusia
malas dan tidak memiliki motivasi untuk belajar, untuk bertanya, dan menimba
pengalaman, maka ia akan selalu memelihara kebodohan. Orang yang bodoh akan
kesulitan menghadapi kebutuhannya sendiri, selalu menunggu uluran tangan dari
orang lain, mudah dibohongi dan diperdaya orang yang pintar tetapi licik.⁽³⁾
Oleh karena itu kita harus memiliki ilmu pengetahuan,
ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengalaman dan pengetahuan dari sejumlah orang
yang dipadukan secara harmonis dalam suatu bangunan yang teratur.
Kesulitan-kesulitan dalam menghadapi masalah pada pokoknya sebenarnya bersumber
pada dua sebab yaitu :
·
Pertama, orang kurang tahu caranya memecahkan masalah
itu (kekurangan formal atau metodologik).
·
Kedua, orang kekurangan fakta-fakta yang sehubungan
dengan masalah itu (kekurangan materil).
Ada dua cara yang umum ditempuh untuk memikirkan
pemecahan suatu masalah, yaitu :
(1) Cara berpikir analitik
Dalam berpikir analitik, orang berangkat dari
dasar-dasar pengetahuan yang umum, dari proposisi-proposisi yang berlaku secara
umum, dan meneliti persoalan-persoalan khusus dari segi dasar-dasar pengetahuan
yang umum. Serta kesimpulannya ditarik secara deduktif dan pembuktian kebenarannya dilakukan secara apriori. ⁽²⁾
(2) Cara berpikr sintetik
Dalam berpikir sintetik, landasannya diambil dari
pengetahuan-pengetahuan yang khusus, fakta-fakta yang unik, dan merangkaikan
fakta-fakta yang khusus itu menjadi suatu solusi yang bersifat umum. Serta
kesimpulannya ditarik secara induktif, dan pembuktian kebenarannya bersifat a
posteriori.⁽²⁾
Secara filosofi pemecahan masalah yang dihadapi
manusia memiliki tingkat kesulitan yang tidak jauh berbeda. Hanya saja,
kualitas kesulitan tersebut bervariasi.
B.
Aktivitas Penelitian
Winarno Surakhmad (1990:20-30) mengatakan bahwa jika
dianalogikan sebagai pohon, penelitian dapat tumbuh subur hanya jika iklim,
perawatan, dan faktor lain untuk tumbuh telah terpenuhi. Dari sudut ini,
peneliti membutuhkan faktor lain agar penelitian yang dilakukan membuahkan
hasil.⁽⁴⁾
Kebutuhan-kebutuhan seorang peneliti adalah sebagai
berikut :
1.
Kebutuhan terhadap teori
Seorang peneliti membutuhkan teori yang menjadi dalil
bagi dasar-dasar pijakan penelitian. Teori dapat menjadi dasar dan rangka suatu
ilmu pengetahuan. Teori ilmiah adalah teori yang dapat dijadikan pijakan untuk melakukan
pengolahan data, mulai system pengumpulan data hingga penilaian data itu
sendiri, sehingga data yang dimaksud akan diketahui relevansinya dengan teori
atau sebaliknya bertentangan dengan teori. ⁽⁴⁾
2.
Kebutuhan terhadap masalah
Yang dimaksud dengan masalah adalah setiap kesulitan
yang menggerakan manusia untuk memecahkannya. Masalah harus dirasakan sebagai
rintangan yang harus dilalui. ⁽⁴⁾
3.
Kebutuhan terhadap rencana
Pembatasan masalah terdapat dalam rumusan masalah. Ada
tiga hal yang berkaitan dengan perumusan masalah, yaitu :
a. Dalam rencana kerja, setiap istilah perlu
memiliki pengertian tertentu yang jelas. Istilah yang samar-samar harus
dihindarkan.
b. Dalam rencan kerja, jangan mengambil daerah
yang terlalu luas, sehingga penyelidikan menjadi buyar.
c. Dalam rencana kerja, jengan terlalu
menyempitkan masalah, sehingga masalah yang dimaksud kehilangan makna yang
sesungguhnya.
4.
Kebutuhan terhadap hipotesis
Sangat utama dalam penelitian yang bersifat kuantatif.
Untuk penelitian kualitatif, hipotesa tidak terlalu penting. Jika demikian,
peneliti membutuhkan hipotesis berbentuk asumsi.
5.
Kebutuhan terhadap data
Dalam semua penelitian dibutuhkan sejumlah data. Tanpa
data, tidak ada penelitian. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai
teknik, misalnya observasi, wawancara, dokumentasi dan sebagainya.
6.
Kebutuhan terhadap fasilitas
Tampak tidak begitu penting, padahal fasilitas itu
sangat mendukung keberhasilan suatu penelitian. Misalnya, alat perekam, kamera,
kendaraan dan sebagainya.
7.
Kebutuhan akan kebebasan
Artinya bahwa peneliti harus bebas bergerak dalam
mengumpulkan data. Bukan penelitian yang dikejar target sponsor, sehingga
prinsip yang dibangun dalam penelitian adalah kebenaran.
C. Penelitian Kualitatif Fenomenologis
Penelitian adalah jawaban ilmiah terhadap permasalahan
yang dihadapi manusia pada umumnya.
Menurut yudistira K. Garna (1999:14-15) perkembangan
penelitian secara filosofis, bermula dari adanya kritik dari dalam komunitas
peneliti dan kelompok ilmuan yang biasanya berasal dari perdebatan mendalam,
berkaitan dengan bagaimana metode atau pendekatan penelitian yang dianggap
cocok dan tidak cocok dengan hakikat masalahnya.⁽⁵⁾
Secara subtansial,
meskipun kajian dasarnya berbeda, jika didekati secara aksiologi akan ditemukan
titik temu yang kondusif antara nilai guna ilmu alamiah dan ilmu sosial.
Konteks tujuan dan manfaat kedua ilmu tersebut pada dasarnya secara pragmatis
bermaksud mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan.
D. METODE ILMIAH
Filsafat boleh saja berbangga diri dengan kebebasannya
dalam merasionalisasi segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Logika
menduduki tempat yang mulia dalam filsafat. tak satu pun pengetahuan yang dapat
laridari sentuhan filsafat. akan tetapi kebanggaan tersebut hanyalah apologia
pro libro suo-nya filsafat, dalam dirinya terdapat kesadaran bahwa segala yang
dipikirkan dan yang terpikirkan sama sekali jauh dari kebenaran empiric, karena
berbeda dengan jauh dengan metode ilmiah dalam menemukan validitas suatu
kebenaran.
Kebenaran ilmiah yang meskipun dikuasai oleh
relativitasnya, selalu berpatokan kepada beberapa hal mendasar, yaitu:
1. Adanya teori yang dijadikan dalil utama
dalam mengukur fakta-fakta aktual.
2. Adanya data-data yang berupa fakta atau
realitas senyatanya dan realitas dalam dokumen tertentu.
3. Adanya pengelompokan data dan fakta yang
signifikan.
4. Adanya uji validitas.
5. Adanya penarikan kesimpulan yang
operasional.
6. Adanya fungsi timbale balik antara teori
dan realitas.
7. Adanya pengembangan dialektika terhadap
teori yang sudah teruji.
8. Adanya pembatasan wilayah penelitian yang
proporsional.
Ciri-ciri tersebut merupakan ‘citra’ ilmu pengetahuan
dan metode ilmiah. Oleh karena itu, menurut Juhaya S. Pradja, metode ilmiah
dimulai dengan pengamatan-pengamatan, kemudian memperkuat diri dengan
pengalaman dan menarik kesimpulan atas dasar pembuktian yang akurat.
Menurut Yudistira K. Garna, metode ilmiah merupakan
suatu perluasan kemampuan yang digunakan manusia untuk mencari kebenaran yan
realistik. Langkah metode ilmiah berpijak pada pertanyaan di seputar tiga hal,
yaitu :
(1) Kemana arah yang hendak dituju.
(2) Bagaimana dan kapan mulai bergerak.
(3) Mampukah melakukan langkah dan gerakan
sesuai dengan maksud yang ditargetkan.
Metode ilmiah dimulai dengan usaha untuk konsisten
untuk berpikir ilmiah. Dalam kerangka berpikir ilmiah, logika merupakan metode
meluruskan pemikiran, baik dalam pendekatan deduktif maupun induktif.
Dalam metode penelitian yang mantaati metode ilmiah,
tahapan-tahapannya harus sistematis dan sesuai prosedur atau terencana dengan
matang. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :
1.
Penentuan Lokasi
Dalam menentukan lokasi peneliti perlu dipertimbangkan
hakikat masalah yang hendak diteliti, kemampuan peneliti untuk melanjutkan
penelitian, waktu yang tersedia sesuai target yang ditentukan, sarana dan
prasarana ,fasilitas penelitian dan sebagainya.
2.
Penentuan metode
Metode penelitian itu terbagi menjadi dua, yaitu
metode kualitatif dan penelitian deskriptif. Dalam penelitian kualitatif,
dominasi filsafat ilmu cukup kuat, karena penalaran ilmiah lebih banyak menggunakan
logika, baik deduktif maupun induktif. Di antara jenis penelitian kualitatif
adalah penelitian yang menggunakan metode penelitian eksploratif dan metode
deskriptif. Adapun tujuan penelitian eksploratif yaitu bertujuan untuk memahami
eksistensi dan relevansi antara berbagai fenomena dalam perilaku social secara
komprehesif.
Metode penelitian deskriptif dipergunakan untuk
menggambarkan berbagai gejala dan fakta yang terdapat dalam kehidupan sosial
secara mendalam. Dalam pelaksanaan penelitian yang menggunakan metode
deskriftif, pengumpulan data dilaksanakan dengan melakukan seleksitas data dan
penentuan data yang dianggap representative secara operasional.
3.
Penentuan Sumber Data
Informasi data dalam penelitian diperoleh melalui dua
sumber, yakni lapangan dan dokumen. Sumber data lapangan adalah seorang tokoh
masyarakat, tokoh agama, aparat pemerintahan, dan sebagainya yang merupakan
sumber data primer. Sumber dokumenter dibagi menjadi dua, yaitu :
·
Sumber informasi dokumenter primer
Sumber informasi dokumenter primer itu dapat berupa
arsip-arsip yang berkaitan dengan masalah penelitian, seperti undang-undang,
peraturan keanggotaan semacam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.
·
Sumber informasi dokumenter sekunder
Sumber informasi dokumenter sekunder itu dapat berupa
buku-buku yang dikarang oleh orang lain dan dokumen-dokumen berupa laporan
penelitian.
Dalam penelitian ini, informan dipilih secara
purposif. Informan pertama diminta untuk mengikuti orang lain yang dapat
membedakan informasi dan kemudian informan tersebut diminta pula menunjuk orang
lain dan seterusnya. Cara tersebut dikenal dengan snoeball technique samapai dicapai
taraf redundancy, (ketuntasan) artinya dianggap cukup terhadap informasi yang
diperlukan.
4.
Tahap – tahap Penelitian
Tahap – tahap penelitian itu terbagi menjadi 3, yaitu
:
·
Tahap orientasi
·
Tahap eksplorasi
·
Tahap membercheck
5.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian yang menggunakan metode penelitian
deskriptif, pengumpulan data dilakukan langsung oleh peneliti. Hal ini
dilakukan dengan pertimbangan :
a. Peneliti merupakan alat yang peka dan dapat
bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang diperkirakan bermakna
bagi peneliti
b. Peneliti sebagai alat yang dapat langsung
menyesuaikan diri terhadap segala aspek yang diteliti sehingga dapat memahami
situasi dalam berbagai tingkah laku.
Teknik pengumpulan data oleh seorang peneliti demi
mendapatkan data yang akurat bagi penelitiannya biasanya menggunakan cara
snowball technique.
6.
Analisis Data
Analisis data merupakan proses penyusunan data agar
dapat diinterpretasi. Penyusunan data berarti klasifikasi data dengan pola,
tema, atau kategori tertentu.
Analisis data secara sistematis dilakukan dengan tiga
langkah secara bersamaan, yaitu :
Pertama, reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan,
pemusatan perhatian pada penyederhanaan data, pengabstrakan dari transformasi
data besar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan.
Kedua, penyajian data, yakni penyajian sekumpulan informasi
sistematis yang member kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan
tindakan. Penyajian tersebut dapat berbentuk matrik, grafik, jaringan, dan
bagan.
Ketiga, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Langkah
verifikasi dilakukan sejak permulaan, pengumpulan data, pembuatan pola-pola,
penjelasan konfigurasi-konfigurasi yang mungkin dan alur sebab akibat serta
proposisi.
7.
Teknik Pemeriksaan Data
Dalam pemeriksaan data kualitatif, terdapat beberapa
criteria. Menurut Moleong dalam Nasution, pemeriksaan data kualitatif adalah
sebagai berikut:
a. Derajat Kepercayaan (creadibility)
b. Keteralihan (transferbility)
c. Kebergantungan (dependability)
d. Kepastian (confrimability)
Tokoh utama dalam ilmu fenomologi adalah Edmund
Hursserl, yang berpendapat bahwa ada kebenaran untuk semua orang dan
manusia,dan manusia dapat mencapainya. Menurut Noeng Muhadjir menjelaskan bahwa
ontologik metodologi penetapan kualitatif yang berlandaskan fenomenologi sama
dengan berlandaskan rasionalisme, dan berbeda dengan yang berlandaskan
positivism.
Secara aksiologis, ada kesamaan antara fenomenologi
dan rasionalistis, yakni keduanya mengakui kebenaran etik. Alhasil secara
epistemology, metodologi penelitian kualitatif yang berlandaskan pada
fenomenologi adalah bangunan dari filsafat itu sendiri yang “ingin kabur” dari
positivisme yang merupakan citra dari “metode ilmiah”.
BAB III
KESIMPULAN
Jadi filsafat
ilmu sebagai aktivitas penelitian adalah suatu pembahasan yang membahas semua
hal yg terdapat pada manusia selaku peneliti yang mencangkup:
·
Manusia dan Masalah Kehidupannya
·
Aktivitas Penelitian
·
Penelitian Kualitatif Fenomenologis
·
Metode Ilmiah
Dan metode
ilmiah dapat di rangkum sebagaimana bagan dibawah ini :
|
·
Pengamatan
·
Percobaan
·
Pengukuran
·
Survai
·
Deduksi
·
Induksi
·
Analisis
|
|
·
Penentuan
masalah
·
Perumusan
hipotesis
·
Pengumpulan
data
·
Penurunan
kesimpulan
·
Pengujian
hasil
|
|
·
Daftar pertanyaan
·
Wawancara
·
Perhitungan
·
pemanasan
|
|
·
Timbangan
·
Meteran
·
Perapian
·
Komputer
|
|
METODE ILMIAH
|
|
Pola
prosuderal
|
|
Tata langkah
|
|
Berbagai
teknik
|
|
Aneka
alat
|
DAFTAR
PUSTAKA
Saebani Beni
Ahmad, M.S.i. 2009. Filsafat Ilmu: CV. Pustaka Setia : bandung
The Liang Gie.1991. Pengantar
Filsafat Ilmu : Liberty: Yogyakarta




0 komentar:
Posting Komentar