About

Selasa, 03 Februari 2015

Filsafat Ilmu Sebagai Aktivitas Penelitian dan Metode Ilmiah



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah,dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada baginda alam Nabi Muhammad Saw, beserta keluargnya, sabatnya, tabiin, hingga kepada kita selaku umatnya hingga akhir zaman.
Makalah yang bertemakan FILSAFAT ILMU SEBAGAI AKTIVITAS PENELITIAN DAN METODE ILMIAH ini, tidak lain hanyalah untuk memenuhi tugas kelompok  mata kuliah Filsafat Ilmu. Saya sadar bahwa dalam penyelesaian makalah ini jauh dari kesempurnaan, baik dalam penulisan maupun penyampaian materinya, karena kami masih dalam tahap pembelajaran. Meskipun demikian kami berharap makalah ini bermanfat bagi semuanya, khususnya bagi saya. Oleh karena itu dengan lapangdada saya akan menerima kritik dan saran yang sifatnya edukatif guna perbaikkan dimasa yang akan datang.
Dalam pengantar ini kami mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen mata kuliah Filsafat Ilmu, kepada teman-teman dan juga kepada semua pihak terutama kepada sumber-sumber yang telah membantu terselesaikannya makalah ini, semoga amal amaliah kita semua diberi balasan oleh Allah SWT. Amiin ya rabbal ‘alamin.



Bandung, 01 November 2012


              Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Filsafat dan  ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara subtansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peran filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat.
Oleh karena itu, maka saya sebagai seorang mahasiswa merasa sangat penting untuk mengkaji pembahasan filsafat ilmu, dengan mengangkat tema “ILMU SEBAGAI AKTIVITAS PENELITIAN DAN METODE ILMIAH”. Karena di dalamnya terdapat pembahasan yang menjelaskan tentang manusia dan masalah dalam kehidupannya, serta berbagai macam penelitian terhadap manusia itu sendiri.

B.     Rumusan Masalah
Dari permasalahan yang telah dipaparkan diatas, penulis memandang perlu adanya pembatasan yang dirumuskan dalam pertanyaan – pertanyaan sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud manusia dan masalah dalam kehidupannya ?
2.      Apa yang dimaksud aktivitas penelitian ?
3.      Apa yang dimaksud penelitian kualitatif fenomenologis ?
4.      Apa yang dimaksud metode ilmiah dalam penelitian ?

C.     Tujuan
1.      Untuk memahami penjelasan manusia dan masalah dalam kehidupannya.
2.      Untuk memahami penjelasan aktivitas penelitian.
3.      Untuk memahami penjelasan penelitian kualitatif fenomenologis.
4.      Untuk memahami penjelasan metode ilmiah dalam penelitian.


BAB II
PEMBAHASAN

A.     Manusia dan Masalah Kehidupannya
Manusia dilahirkan tidak sedikit pun mempunyai masalah. Keadaannya masih sangat suci bagaikan kertas putih yang belum bertuliskan tinta sedikit pun, serta bagaikan kain putih yang belum terkena noda sedikit pun. Akan tetapi, bagi orang tuanya yang menghadapi rasa sakit ketika melahirkannya, masalahnya sudah menumpuk. Bagi orang miskin masalahnya adalah tidak mempunyai biaya persalinan, rasa sakit yang luar biasa, anaknya lahir tidak normal dan sebagainya, sedangkan bagi orang kaya, masalahnya bukan pada biaya persalinan, tetapi bisa jadi rasa khawatir yang berlebihan, takut menghadapi rasa sakit, mungkin juga ada kekhawatiran bahwa kecantikannya akan berubah total, sehingga ia memilih cara melahirkan yang lain, misalnya dengan cara operasi. ³
Masalah adalah kawan sejati bagi kehidupan manusia. Biasanya masalah itu datang disebabkan oleh berbagai hal, misalnya karena manusia diperbudak oleh hawa nafsunya yang serakah. Tidak pernah merasa cukup dengan apa yang diperoleh, senantiasa mengukur kesuksesan dengan ukuran harta benda. Apabila menghadapi hidup dengan mengikuti hawa nafsunya, manusia akan mendapatkan banyak masalah, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk orang lain. Masalah juga datang karena kebodohan. Kebodohan timbul karena manusia malas dan tidak memiliki motivasi untuk belajar, untuk bertanya, dan menimba pengalaman, maka ia akan selalu memelihara kebodohan. Orang yang bodoh akan kesulitan menghadapi kebutuhannya sendiri, selalu menunggu uluran tangan dari orang lain, mudah dibohongi dan diperdaya orang yang pintar tetapi licik.³
Oleh karena itu kita harus memiliki ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengalaman dan pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara harmonis dalam suatu bangunan yang teratur. Kesulitan-kesulitan dalam menghadapi masalah pada pokoknya sebenarnya bersumber pada dua sebab yaitu :
·        Pertama, orang kurang tahu caranya memecahkan masalah itu (kekurangan formal atau metodologik).
·        Kedua, orang kekurangan fakta-fakta yang sehubungan dengan masalah itu (kekurangan materil).
Ada dua cara yang umum ditempuh untuk memikirkan pemecahan suatu masalah, yaitu :
(1)   Cara berpikir analitik
Dalam berpikir analitik, orang berangkat dari dasar-dasar pengetahuan yang umum, dari proposisi-proposisi yang berlaku secara umum, dan meneliti persoalan-persoalan khusus dari segi dasar-dasar pengetahuan yang umum. Serta kesimpulannya ditarik secara deduktif dan pembuktian kebenarannya dilakukan secara apriori. ²
(2)   Cara berpikr sintetik
Dalam berpikir sintetik, landasannya diambil dari pengetahuan-pengetahuan yang khusus, fakta-fakta yang unik, dan merangkaikan fakta-fakta yang khusus itu menjadi suatu solusi yang bersifat umum. Serta kesimpulannya ditarik secara induktif, dan pembuktian kebenarannya bersifat a posteriori.²
Secara filosofi pemecahan masalah yang dihadapi manusia memiliki tingkat kesulitan yang tidak jauh berbeda. Hanya saja, kualitas kesulitan tersebut bervariasi.
B.     Aktivitas Penelitian
Winarno Surakhmad (1990:20-30) mengatakan bahwa jika dianalogikan sebagai pohon, penelitian dapat tumbuh subur hanya jika iklim, perawatan, dan faktor lain untuk tumbuh telah terpenuhi. Dari sudut ini, peneliti membutuhkan faktor lain agar penelitian yang dilakukan membuahkan hasil.⁽⁴⁾
Kebutuhan-kebutuhan seorang peneliti adalah sebagai berikut :
1.      Kebutuhan terhadap teori
Seorang peneliti membutuhkan teori yang menjadi dalil bagi dasar-dasar pijakan penelitian. Teori dapat menjadi dasar dan rangka suatu ilmu pengetahuan. Teori ilmiah adalah teori yang dapat dijadikan pijakan untuk melakukan pengolahan data, mulai system pengumpulan data hingga penilaian data itu sendiri, sehingga data yang dimaksud akan diketahui relevansinya dengan teori atau sebaliknya bertentangan dengan teori. ⁽⁴⁾
2.      Kebutuhan terhadap masalah
Yang dimaksud dengan masalah adalah setiap kesulitan yang menggerakan manusia untuk memecahkannya. Masalah harus dirasakan sebagai rintangan yang harus dilalui. ⁽⁴⁾
3.      Kebutuhan terhadap rencana
Pembatasan masalah terdapat dalam rumusan masalah. Ada tiga hal yang berkaitan dengan perumusan masalah, yaitu :
a.       Dalam rencana kerja, setiap istilah perlu memiliki pengertian tertentu yang jelas. Istilah yang samar-samar harus dihindarkan.
b.      Dalam rencan kerja, jangan mengambil daerah yang terlalu luas, sehingga penyelidikan menjadi buyar.
c.       Dalam rencana kerja, jengan terlalu menyempitkan masalah, sehingga masalah yang dimaksud kehilangan makna yang sesungguhnya.

4.      Kebutuhan terhadap hipotesis
Sangat utama dalam penelitian yang bersifat kuantatif. Untuk penelitian kualitatif, hipotesa tidak terlalu penting. Jika demikian, peneliti membutuhkan hipotesis berbentuk asumsi.
5.      Kebutuhan terhadap data
Dalam semua penelitian dibutuhkan sejumlah data. Tanpa data, tidak ada penelitian. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai teknik, misalnya observasi, wawancara, dokumentasi dan sebagainya.
6.      Kebutuhan terhadap fasilitas
Tampak tidak begitu penting, padahal fasilitas itu sangat mendukung keberhasilan suatu penelitian. Misalnya, alat perekam, kamera, kendaraan dan sebagainya.
7.      Kebutuhan akan kebebasan
Artinya bahwa peneliti harus bebas bergerak dalam mengumpulkan data. Bukan penelitian yang dikejar target sponsor, sehingga prinsip yang dibangun dalam penelitian adalah kebenaran.
C.     Penelitian Kualitatif Fenomenologis
Penelitian adalah jawaban ilmiah terhadap permasalahan yang dihadapi manusia pada umumnya.
Menurut yudistira K. Garna (1999:14-15) perkembangan penelitian secara filosofis, bermula dari adanya kritik dari dalam komunitas peneliti dan kelompok ilmuan yang biasanya berasal dari perdebatan mendalam, berkaitan dengan bagaimana metode atau pendekatan penelitian yang dianggap cocok dan tidak cocok dengan hakikat masalahnya.⁽⁵⁾
            Secara subtansial, meskipun kajian dasarnya berbeda, jika didekati secara aksiologi akan ditemukan titik temu yang kondusif antara nilai guna ilmu alamiah dan ilmu sosial. Konteks tujuan dan manfaat kedua ilmu tersebut pada dasarnya secara pragmatis bermaksud mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan.



D.    METODE ILMIAH
Filsafat boleh saja berbangga diri dengan kebebasannya dalam merasionalisasi segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Logika menduduki tempat yang mulia dalam filsafat. tak satu pun pengetahuan yang dapat laridari sentuhan filsafat. akan tetapi kebanggaan tersebut hanyalah apologia pro libro suo-nya filsafat, dalam dirinya terdapat kesadaran bahwa segala yang dipikirkan dan yang terpikirkan sama sekali jauh dari kebenaran empiric, karena berbeda dengan jauh dengan metode ilmiah dalam menemukan validitas suatu kebenaran.
Kebenaran ilmiah yang meskipun dikuasai oleh relativitasnya, selalu berpatokan kepada beberapa hal mendasar, yaitu:
1.      Adanya teori yang dijadikan dalil utama dalam mengukur fakta-fakta aktual.
2.      Adanya data-data yang berupa fakta atau realitas senyatanya dan realitas dalam dokumen tertentu.
3.      Adanya pengelompokan data dan fakta yang signifikan.
4.      Adanya uji validitas.
5.      Adanya penarikan kesimpulan yang operasional.
6.      Adanya fungsi timbale balik antara teori dan realitas.
7.      Adanya pengembangan dialektika terhadap teori yang sudah teruji.
8.      Adanya pembatasan wilayah penelitian yang proporsional.
Ciri-ciri tersebut merupakan ‘citra’ ilmu pengetahuan dan metode ilmiah. Oleh karena itu, menurut Juhaya S. Pradja, metode ilmiah dimulai dengan pengamatan-pengamatan, kemudian memperkuat diri dengan pengalaman dan menarik kesimpulan atas dasar pembuktian yang akurat.
Menurut Yudistira K. Garna, metode ilmiah merupakan suatu perluasan kemampuan yang digunakan manusia untuk mencari kebenaran yan realistik. Langkah metode ilmiah berpijak pada pertanyaan di seputar tiga hal, yaitu :
(1)   Kemana arah yang hendak dituju.
(2)   Bagaimana dan kapan mulai bergerak.
(3)   Mampukah melakukan langkah dan gerakan sesuai dengan maksud yang ditargetkan.
Metode ilmiah dimulai dengan usaha untuk konsisten untuk berpikir ilmiah. Dalam kerangka berpikir ilmiah, logika merupakan metode meluruskan pemikiran, baik dalam pendekatan deduktif maupun induktif.
Dalam metode penelitian yang mantaati metode ilmiah, tahapan-tahapannya harus sistematis dan sesuai prosedur atau terencana dengan matang. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Penentuan Lokasi
Dalam menentukan lokasi peneliti perlu dipertimbangkan hakikat masalah yang hendak diteliti, kemampuan peneliti untuk melanjutkan penelitian, waktu yang tersedia sesuai target yang ditentukan, sarana dan prasarana ,fasilitas penelitian dan sebagainya.
2.      Penentuan metode
Metode penelitian itu terbagi menjadi dua, yaitu metode kualitatif dan penelitian deskriptif. Dalam penelitian kualitatif, dominasi filsafat ilmu cukup kuat, karena penalaran ilmiah lebih banyak menggunakan logika, baik deduktif maupun induktif. Di antara jenis penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan metode penelitian eksploratif dan metode deskriptif. Adapun tujuan penelitian eksploratif yaitu bertujuan untuk memahami eksistensi dan relevansi antara berbagai fenomena dalam perilaku social secara komprehesif.
Metode penelitian deskriptif dipergunakan untuk menggambarkan berbagai gejala dan fakta yang terdapat dalam kehidupan sosial secara mendalam. Dalam pelaksanaan penelitian yang menggunakan metode deskriftif, pengumpulan data dilaksanakan dengan melakukan seleksitas data dan penentuan data yang dianggap representative secara operasional.
3.      Penentuan Sumber Data
Informasi data dalam penelitian diperoleh melalui dua sumber, yakni lapangan dan dokumen. Sumber data lapangan adalah seorang tokoh masyarakat, tokoh agama, aparat pemerintahan, dan sebagainya yang merupakan sumber data primer. Sumber dokumenter dibagi menjadi dua, yaitu :
·        Sumber informasi dokumenter primer
Sumber informasi dokumenter primer itu dapat berupa arsip-arsip yang berkaitan dengan masalah penelitian, seperti undang-undang, peraturan keanggotaan semacam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.
·        Sumber informasi dokumenter sekunder
Sumber informasi dokumenter sekunder itu dapat berupa buku-buku yang dikarang oleh orang lain dan dokumen-dokumen berupa laporan penelitian.
Dalam penelitian ini, informan dipilih secara purposif. Informan pertama diminta untuk mengikuti orang lain yang dapat membedakan informasi dan kemudian informan tersebut diminta pula menunjuk orang lain dan seterusnya. Cara tersebut dikenal dengan snoeball technique samapai dicapai taraf redundancy, (ketuntasan) artinya dianggap cukup terhadap informasi yang diperlukan.
4.      Tahap – tahap Penelitian
Tahap – tahap penelitian itu terbagi menjadi 3, yaitu :
·        Tahap orientasi
·        Tahap eksplorasi
·        Tahap membercheck

5.      Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian yang menggunakan metode penelitian deskriptif, pengumpulan data dilakukan langsung oleh peneliti. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan :
a.       Peneliti merupakan alat yang peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang diperkirakan bermakna bagi peneliti
b.      Peneliti sebagai alat yang dapat langsung menyesuaikan diri terhadap segala aspek yang diteliti sehingga dapat memahami situasi dalam berbagai tingkah laku.
Teknik pengumpulan data oleh seorang peneliti demi mendapatkan data yang akurat bagi penelitiannya biasanya menggunakan cara snowball technique.
6.      Analisis Data
Analisis data merupakan proses penyusunan data agar dapat diinterpretasi. Penyusunan data berarti klasifikasi data dengan pola, tema, atau kategori tertentu.
Analisis data secara sistematis dilakukan dengan tiga langkah secara bersamaan, yaitu :
Pertama, reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan data, pengabstrakan dari transformasi data besar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan.
Kedua, penyajian data, yakni penyajian sekumpulan informasi sistematis yang member kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian tersebut dapat berbentuk matrik, grafik, jaringan, dan bagan.
Ketiga, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Langkah verifikasi dilakukan sejak permulaan, pengumpulan data, pembuatan pola-pola, penjelasan konfigurasi-konfigurasi yang mungkin dan alur sebab akibat serta proposisi.


7.      Teknik Pemeriksaan Data
Dalam pemeriksaan data kualitatif, terdapat beberapa criteria. Menurut Moleong dalam Nasution, pemeriksaan data kualitatif adalah sebagai berikut:
a.       Derajat Kepercayaan (creadibility)
b.      Keteralihan (transferbility)
c.       Kebergantungan (dependability)
d.      Kepastian (confrimability)
Tokoh utama dalam ilmu fenomologi adalah Edmund Hursserl, yang berpendapat bahwa ada kebenaran untuk semua orang dan manusia,dan manusia dapat mencapainya. Menurut Noeng Muhadjir menjelaskan bahwa ontologik metodologi penetapan kualitatif yang berlandaskan fenomenologi sama dengan berlandaskan rasionalisme, dan berbeda dengan yang berlandaskan positivism.
Secara aksiologis, ada kesamaan antara fenomenologi dan rasionalistis, yakni keduanya mengakui kebenaran etik. Alhasil secara epistemology, metodologi penelitian kualitatif yang berlandaskan pada fenomenologi adalah bangunan dari filsafat itu sendiri yang “ingin kabur” dari positivisme yang merupakan citra dari “metode ilmiah”.


BAB III
KESIMPULAN
Jadi filsafat ilmu sebagai aktivitas penelitian adalah suatu pembahasan yang membahas semua hal yg terdapat pada manusia selaku peneliti yang mencangkup:
·        Manusia dan Masalah Kehidupannya
·        Aktivitas Penelitian
·        Penelitian Kualitatif Fenomenologis
·        Metode Ilmiah
Dan metode ilmiah dapat di rangkum sebagaimana bagan dibawah ini :
·         Pengamatan
·         Percobaan
·         Pengukuran
·         Survai
·         Deduksi
·         Induksi
·         Analisis

·         Penentuan masalah
·         Perumusan hipotesis
·         Pengumpulan data
·         Penurunan kesimpulan
·         Pengujian hasil
·         Daftar pertanyaan
·         Wawancara
·         Perhitungan
·         pemanasan
·         Timbangan
·         Meteran
·         Perapian
·         Komputer 
METODE ILMIAH
Pola prosuderal
Tata langkah
Berbagai teknik
Aneka alat


DAFTAR PUSTAKA

Saebani Beni Ahmad, M.S.i. 2009. Filsafat Ilmu: CV. Pustaka Setia : bandung  
The Liang Gie.1991. Pengantar Filsafat Ilmu : Liberty: Yogyakarta

0 komentar:

Posting Komentar

Romi Syahrurrohim. Diberdayakan oleh Blogger.